Senin, 05 Oktober 2015

IPMAPANDODEI Makassar - Berubungan dengan Natal Sesulawesi Tahun 2015 ini di Golontal



IPMAPANDODEI Makassar - Berubungan dengan Natal Sesulawesi Tahun 2015 ini di Golontalo, Maka itu Ipmapandodei Makasar mengadakan pelatian bolah Volibal, guna untuk mempersiapkan tenaga - tenaga yang akan brtandin dalam gegiatan Natal Ipmapandodei Se- sulawesi di golontalo. Kegiatan ini tergabung dari beberapa tempat kota studi yaitu sebagai berikut, Makassar, Manado, Golontalo, NTT, dan Palu, Maka itu semua yang tergabung dalam Ipmapandodei Se- sulawisi agar dapat mempersiapkan diri dalam setiap kegiatan yang Akan berlansun di golontalo.

Kegiatan Natal IPMAPANDODEI sesulawesi ini merupakan Rutinitas dalam Setiap Tahun, demi meningkatkan solidaritas Pemuda Mepago PANIAI, NABIRE, DOGIYAI, DEIYAI, dan INTAN JAYA ini,

Selasa, 29 September 2015

POLISI KOLONIAL INDONESIA TEMBAK MATI KALEB BAGAU DI TIMIKA


KNPB Timika News----Pada hari ini senin tanggal 28 September 2015 Jam 19.00 wpb telah terulang lagi terjadi penembakan terhadap 2 warga sipil Anak-anak sekolah di pasar gorong-gorong kompleks biak timika papua. Nama korban KALEB BAGAU (17) di tembak Mati, status masih pelajar STM Kuala Kencana Kelas tiga. Dan Efrando (17) di tembak di bagian Dada dan kaki, satatus masih Pelajar anak sekolah SMK Petra Jl.Budi Utomo Timika Papua sementara lagi kritis di RSUD sp 1 Timika, mereka dua masih anak sekolah SMA. Awalnya sekitar jam 19.00 Wpb KALEB,dan EFRANDO bersama kawan-kawannya sedang duduk duduk di bawah tiang tower,tiba2 polisi menggunakan mobil patroli masuk di kompleks biak dan mengkepung di rumah warga dan menanya kepada warga setempat bahwa,dimanakah anak-anak yang bikin kacau di sini,tetapi memang karena situasi di kompleks biak itu masih aman-aman Akhirnya Mobil Patroli yang tadi pergi parkir di salah satu rumah warga orang jayapura dan menanya-nanya disitu,lalu ada warga yang lapor ke polisi bahwa anak-anak itu selalu bikin kacau di sini dan orang tuanya OPM,kemudian tidak lama 10 menit kemudian anggota kepolisian menggunakan 3 mobil dalmas,5 mobil Avansa dan sekitar 15 motor masuk dan mengepung di kompleks biak. Semua di kuasai oleh polisi kemudian karena polisi sedang melakukan pengerebekan akhirnya korban KALEB BAGAU karena takut lari ke arah PLEN ternyata di mata jalan bertemu dengan para anggota kepolisian.
Polisi ini langsung menggunakan Pistol Peredam dan menembak mati terhadap KALEB BAGAU dan Nanto tertembak di bagian dada dan kaki, setelah berhasil membunuh para kepolisian membawahnya pergi ke RSUD dan sampai saat ini korban KALEB BAGAU ada di Kantor KNPB dan PRD wilayah Timika. sumber Knpb timika,




Kamis, 24 September 2015

Benar-Benar Berjuang Dan Tepat Pada Sasaran

Kalau Berjuang Untuk Papua, Jangan Dengan Cara Pendekatan Yang Hanya Mengorbangkan Pikiran, Tenaga dan Waktu Cari cara yang tepat. Kita berjuang dengan cara yang tidak tepat terhadap musuh, maka masalah gampang dibuat dengan seenaknya dan masalah itu trus terjadi kecuali berjuangan dengan cara yang tepat, cara yang tepat adalah suatu cara dimana itu mampu melemahkan kekuatan musuh terhadap pelaku korban. Sehingga kedepan masalahnya tidak seenaknya diciptakan begitu saja tanpa diprosesi pengelesasian. Kita berjuang dengan berikan masukan, solusi, atau kritik kepada
berarti sama saja kita berikan cara baik kepada musuh kita dalam perlawanannya. Makanya itu bukan cara yang tepat. Saya pikir hal semacam ini orang Papua belum paham sampai kesana atas musuh dari penjajah Indonesia.
Padahal kita sudah mengetahui sejarahnya bahwa pembunuhan terhadap orang Papua secara tidakmanusiawi terus terjadi di Papua maupun luar Papua.



 Pembunuhan nyata terhadap mahasiswa Papua pada saat ini adalah seperti yang terjadi di Tomohon, Manado, Makassar atas nama Charles Enumbi, mahasiswa Semester akhir dan ada juga di Yogyakarta atas nama Paulus Petege, mahasiswa baru, 2013. Lain lagi, di jogja pada sebelumnya. Sementara yang daerah lain lagi itu sudah lebih banyak, apalagi dihitung dari awal integrasi Papua di NKRI.
Maka, salah satu momen yang tepat untuk orang Papua bersatu, terutama mahasiswa Papua sebagai agen of change adalah pada saat dimana tindakan pembunuhan ketidakmanusiawian oleh orang luar Papua terhadap orang Papua.

Misalnya momen pada pembunuhan mahasiswa Papua di sulawesi, Tomohon, dan Makassar untuk menentukan satu sikap yang mana isinya membuat mereka sebagai musuh itu bisa mengurangi terhadap orang Papua. Salah satu sikap tegas yang bisa dibuat orang Papua dengan berdasarkan pembunuhan mahasiswa Papua di Tomohon, Makassar itu adalah misalnya melalui surat pernrnyataan "ORANG JAWA SULAWESI DI PAPUA HARUS KEMBLI DI DAERAH ASAL". Suarat itu ditanda-tangani oleh seluruh panguyuban/komite yang ada disetiap kota study di seluruh Indonesia bersama masyarakat Papua/disetiap desa, lalu layangkan kepada pemerintah provinsi Papua, pemerintah provinsi di Sulwesi dan pemerintah Pusat, Presiden.

Ini sebuah sikap yang menekan semngat musuh mereka terhadap kita orang Papua. Semacam itu. Yang penting cari momen yang tepat. 


By Kristianus Degei 

Rabu, 23 September 2015

MIMIKA GAGAL TANGANI PEREDARAN MINUMANA KERAS (MIRAS)

MIMIKA GAGAL TANGANI PEREDARAN MINUMANA KERAS (MIRAS)

                                     FHOTO DOC PRIBADI  PUGIYE


Timika, Suara Mahasiswa PapuaTImika, 22/09/2015 Mewakili tokoh Agama Ev. Yusak Magai; menilai Pemda Mimika khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika gagal dalam mengatasi peredaran minuman keras (MIRAS) meski telah ada surat keputusan (SK) Bupati Mimika. “SK Bupati Mimika terkait pelarangan penjualan minuman keras (MIRAS) namun, tidak dijalankan. disisi lain Disperindag Mimika menerbitkan surat izin pemasukan Miras kalau surat izin saja dikeluarkan bagaimana bisa menghentikan miras ini.

Kita tidak bisa menyalahkan yang mengkonsumsinya, apabila Miras ditiadakan pastinya masyarakat akan damai dan aman sesuai dengan visi Bupati dan Wakil Bupati Mimika,” jelasnya Magai. 

Lanjut tokoh Agama Ev. Yusak Magai mengatakan, Miras selama ini banyak menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan warga, banyak kasus kejahatan seperti pemerkosaan dan pembunuhan yang diakibatkan Miras. “Dinas terkait jangan hanya bicara tanpa tindakan harus turung ke lokasi penjualan Minuman Keras (MIRAS) kalau memang kita mempunyai niat untuk memberantas keberadaan Miras di Kabapaten Mimika, ,” ujarnya. 

Sebelumnya, Tokoh Pemuda Yulianus Pugiye menyambut baik keputusan Bupati Mimika Eltinus Omaleng SE; menyangkut pemberantasan Miras lewat pengecekan surat izin usaha Miras dan Pemberantasan Miras yang kadarnya tinggi. “Selama ini saya lihat banyak Miras yang dapat membahayakan nyawa manusia yang beredar. Langkah Bupati untuk menertibkan Miras harus didukung,” tandas.

Pugiye mengatakan, pihaknya yakin Kabupaten Mimika kedepan lebih baik lagi meski tanpa Miras yang sebenarnya lebih banyak menimbulkan masalah dibanding kebaikan. Miras dapat membahayakan nyawa manusia dan dan juga sumber penyakit masyarakat di Mimika, sehingga Miras ditertibkan. Tanpa Miras kita semua akan merasa hidup nyaman dan tenteram.

Berdasarkan informasi yang di terima Solidaritas Mahasiswa Papua, Miras ini sedang membunuh Masyarakat Generasi Muda Penerus Bangsa Papua, Oleh karenanya, mari Pemerintah, Masyarakat, Pelajar, Mahasiswa semuanya dengan serius kita berantaskan MIRAS dari tanah Papua lebih khusus Kabupaten Mimika yang kita cintai.

*Penulis Adalah Yulianus Pugiye Mahasiswa Papua




 

Selasa, 28 Juli 2015

Indonesia Lirik Sebelah Mata Terhadap Orang Papua



Nilai nyawa manusia papua dijadikan sebagai harga material yang bisa dijual-belikan dengan harga yang ditentukan berdasarkan negosiasi.  Sejak Papua intergerasi di indonesia, sampai pada hari ini nyawa manusia papua tidak pernah menghitungkan satupun baik yang ditempak maupun pembunuhan dengan berbagai cara. Itu artinya pandangan indonesia terhadap orang papua adalah barang bukan manusia, padahal dalam agama mengatakan sesungguhnya manusia tidak ada batas harganya dan yang menentukan hidup-mati hanyalah Tuhan yang mengaturnya.

Sekian banyak nyawa manusia papua yang tidak pernah dipersoalkan dimuka hukum dan publik diperlakukan sebagai prikemanusiaan seperti manusia lain di dunia ini secara tuntas. Indonesia pandang serius apabilah kekayaan alam orang Papua dan masalah palestina, setiap presiden bergobar-gobar membelah bangsa lain dengan berbagai alasan baik agama, ekonomi, politik ideoloogi dan kepentingan lain. Sebenarnya adalah indonesia berusaha mencari- cari muka di dunia internasional, supaya diklaim sebagai negara agamis, sosialis dan solidaritas pada hal indonesia dipenuhi dengan hal-hal yang mengandung unsur tidak prikemanusian.

debat kanditad kepemimpin Ir.Joko Widodo-Yusuf Kallah dalam pertarungan gagasan Jokowi mengatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa sebab itu, Falestina harus merdeka secara berdaulat melalui pendekatan prikemanusiaan baik melalui usaha solidaritas maupun diplomasi lain. Sementara perjuangan orang papua yang berujung secara dramatis dengan pembunuhan, perampasan, penganiayaan dan pemerkosaan tidak pernah melihat dan mendengar dan mengucapkan satu kata sekalipun. Kalau begitu ada satu pertanyaan yang muncul yaitu Falestina manusia dan Papua bukan manusia?

Manusia siapaun wajib hukumnya menghargai dan menghormati derajat manusia sebagai makluk ciptaan-Nya dan dipertanggung jawabkan. Namun indonesia rupannya belum membersikan tahi ayam yang masih melengget pada kakinya dan so’-so’ alim terhadap negara lain dan mengaku dirinya sebagai negara pluralisme akan agama, bahasa, suku, kebudayaan dan adat-isti adat. Bahkan anenya lagi adalah lembaga agamis yang ikut terlibat dalam berbuatan kriminal dan membelah kepentingan diri atas nama agama. Agama bukan sebuah alat yang melangkaikan kekuasaan atapun kepentingan lain, melainkan tempat mendamaikan moralitas yang dipenuhi dengan ajaran-ajaran keselamatan dan kebaikan baik diakhirat maupun sekarang.

Tindakan seperti ini, jarang sekali menemukan hanya indonesialah yang mampu menaklukan kelebihan Tuhan dan manusia di dunia ini. Saya bisa menyimpulkan bahwa tanggung jawab diakhirat sangat besar bagi mereka yang melenyapkan manusia secara semena-mena dan mengejar material dan biarkan nyawa manusia dipertanggung jawabkan. Contoh konkrit yang terhot di indonesia adalah pasca terjadinya kebakaran mazjid di Karubaga Kabupaten Tolikara. Petinggi besar negara indonesia langsung turun di tempat kejadian perkara (TKP) dan menyoroti berbagai macam cara untuk menindas orang papua itu sendiri. Kemudian tidak ada seorang petinggi negarapun mempersoalkan nyawa yang ditempak mati dalam insiden tersebut dan tindakan keamanan guna menciptakan suasana yang kondusif secara patenpun tidak ada. Tetapi bagaiaman mempojokan pemerintah daerah papua maupun pihak Gereja supaya turunkan derajat eksistensi orang papua dengan alasan pelanggaran unsur agama.

Kemudian mengedepankan pembangunan material yang telah menghanguskan bagaimana dengan nasib kelurga baca Endi Wanimbo yang dibunuh oleh Polisi secara semena-mena?  Bukan hanya korban, calon generasi bangsa papua, tetapi sekian banyak manusia papua yang  dibunuh secara nyatapun tidak pernah dipertanggung jawabkan secara hukum indonesia, malahan hukum tumbul keatas dan tajam kebawah artinya diperlakukan hukum makar atau liar untuk kaum tertintas dua kali libat dari hukum nasional. Tindakan kriminal orang indonesia terhadap bangsa papua adalah sebagai bentuk mencintai harta kekayaan alam papua dibanding manusia papua.

Beberapa media yang meliput dalam insiden tersebut juga, terlalu berlebihan dalam menyampaikan informasi dan tidak pernah ada media yang menyinggung tentang atas meninggalnya boca tersebut, justru mengejar harta dan biarkan begitu saja nayawa manusia.  Setelah publik menilai atas insiden tersebut banyak orang yang membangkit amarah sehingga tindakan kriminal terhadap warga papua diseluruh indonesia semakin meningkat dan menjatuhi pembunuhan dimana-mana. Bukankah manusia tidak sama harganya dengan harta yang ada di dunia ini? Pemimpin negeri ini sungguh melupakan ajaran yang benar dan melakukan hal duniawi yang dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan dagingnya.

Pada hal insiden ini, merupakan sebuah modus yang didesain secara terstruktur, terencana dan masif untuk meredam isu perjuangan papua yang kini semakin terang di permukaan dunia internasional menujuh zona papua yang damai secara berdaulat hak atas tanah yaitu bumi cenderawasih. Bukan murnih insiden tersebut, ada oknum dibalik layar masalah yaitu polisi, sehingga sangat sulit untuk mengakui pelaku sampai-sampai pada hari ini belum ada titik terang. Andaikan bukan polisi sangat cepat menemukan pelaku, kerja yang tidak nyata ini, merupakan sengaja bersandiwara atas penderitaan pengorbanan masyarakat pribumi

Melaui artikel ini, saya berkesimpulan bahwa manusia indonesia mencederai nilai agama yaitu manusia papua murah harganya dan mahal harganya untuk material. Kemudian saya juga ingin mengingkatkan kepada ritmen gerakan barisan kiri agar kiranya tidak terporvokkasi dengan permainan intelektual indonesia. Karena insiden ini, merupakan upaya meredam atau mengagalkan perjuangan kemerdekaan bangsa papua yang kini semakin dekat menujuh revolusi secara total melalui refrendum untuk menata diri sebagai manusia yang memiliki integritas akan haknya. (Viktor M)

Minggu, 19 Juli 2015

KASUSUS TOLIKARA TERMASUK PELANGGARAN HAM

Tindakan oknum polisi berbagai cara mencari konflik di seluruh wilayah papua. Hal ini merupakan mengundang reaksi publik untuk daerah papua selalu di stigmakan zona konflik. Namun pada kenyataanya semua persoalan yang terjadi adalah ula dari keamanan negara dan ketahanan negara yaitu Polisi dan TNI yang khususnya bertugas di wilayah papua. Ketika kita telusuri kasus yang terjadi di Tolikara, maka polres setempat tidak diindahkan surat pemberitahuan yang diberitahukan sebelum mengadakan kegiatan seminar dari pemuda Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) oleh DPRD dua minggu sebelumnya.

Akar persoalannya adalah bukan siapa-siapa tetapi dari polisi, yang kemudian pandangan publik seolah-olah menyudutkan pemimpin gereja bahkan orang papua diklaim sebagai tidak memiliki unsur toleransi umat beragama di indonesia. Kemudian polisi bersandiwara terhadap kenyataan yang terjadi bukan hanya kasus Tolikara tetapi kasus lain. Tindakan keamanan di papua semakin hari semakin mencederai hukum yang tugasnya adalah mengamankan masalah bukan membuat masalah dan pengecut.

Tindakan seperti ini, sungguh resahkan masyarakat papua pada umumnya, karena semua berbuatannya, yang menjadi korban adalah warga sipil sehingga rakyat papua tidak mengakui polisi/TNI selain Pdt. Karena pada dasarnya semua masalah yang di hadapi oleh rakyat papua, semua aktornya adalah Polisi/TNI yang note benenya adalah penegak hukum alias (keamanan dan ketahanan) negara yang penembahkan terhadap warga secara semena-mena. Bukankah senjata adalah alat negara? Berbuatan sebagian polisi/TNI senjata dijadikan sebagai alat penanggap atau pemangsa nyawa manusia papua.

Kasus di Tolikara, polisi diiamkan setelah menerima surat izin atau pemberitahuan yang diterbitkan oleh DPRD dan pemerintah daerah Kabupaten Tolikara dalam rangkah seminar dan KKR bertaraf Nasional/Internasional yang dilakukan oleh Pemuda GIDI tersebut. Kemudian setelah konflik terjadi bereaksi lalu polisi turun dan melakukan penembakan secara liar sehinnga belasan pemuda dan masyarakat terkena peluru senjata berakibat tindakan polisi. Berbuatan aknum polisi diduga desain secara struktur, masif dan terencana sehingga konfliknya mempojokan gereja dan mematikan nyawa yang tidak berdosa

Akibat tindakan polisi tersebut, 1 anak berusia 15 tahun bernama Endi Wanimbo meninggal dalam insiden dan yang lainnya sementara keadaan dalam perawatan baik RSUD di wamena maupun di Jayapura. Gereja, mazjid atau tempat ibadah bukanlah tempat dimana dijadikan untuk objek suatu masalah atau konflik, melainkan tempat untuk beribadah yaitu mengajarkan hal-hal yang menyangkut dengan kepercayaan yang di dipercayainya. Indonesia merupakan negara yang flural akan agama, yang mana dalam pelaksanaanya wajib saling menghormati anta kepercayaan yang satu dengan yang lainnya sehingga semboyan bhineka tunggal ika selalu ada dalam kehidupan rakyat indoensia.

Apapun bentuk kegiatan keagamaan, saling menghormati dilakukan secara administrasi organisasi agama guna mencega dari tindakan yang menodai hubungan Tuhan dengan para umatnya. Hal ini merupakan upaya neteralisasi hubungan sosial menujuh keharmonisan agama sehingga eksisitensi agama selalu berada dalam kodiror hukum yang berlaku secara nasional. Pemimpin TNI/POLRI, tokoh Agma, tokoh masyarakat bahkah pemerintah harus menyikapi dengan baik khususnya diwilayah papua.

Kemudian diluar papua, jangan pernah bergobar-gobar mengejar informasi yang cenderung pada mengandung unsur negatif, karena insiden ini bukan masalah murni, melainkan ada kambing hitam dibalik masalah. Salah satunya adalah media baik media lokal maupun media nasional, diharapkan supaya memberitakan sesuai dengan fakta agar bisa mengetahui sebenarnya siapa aktor dibalik masalah ini. Media nasional diwilayah papua rupaya pelaksanaan sebagai media tiba akal tiba masa karena hanya sisi negatif yang mengejarnya dan lain sisi tidak mediasi hal ini merupakan diskriminasi.

Diharapkan kepada KOMNAS HAM supaya segera membentuk tim dan usutkan kasus Tolikara supaya bisa menemukan aktor konflik diwilayah papua pada umumnya dan pada khususnya di Tolikara sehingga tidak berpanjang masalah tersebut. (Viktor Mirin)

MENDIDIK RAKYAT DENGAN PERGERAKAN MENDIDIK PEMERINTAH DENGAN PERLAWANAN

Jumat, 10 Juli 2015

Pehuni Asrama Papua Cenderawasi IV Makassar Menggelar Pelantikan Dan Rapat Kerja



Kota Study News: Pemilihan Ketua Asrama Mahasiswa Papua Cenderawasi IV makassar, di lakukan pada beberapa hari yang lalu, dimana dalam pemilihan tersebut ada sekian colon yang mencalonkan diri sebagai pengurus asrama, selama satu periode yaitu 2015/2016 dimana dimenangkan secara mutlak oleh sdr. Nas Murib mahasiswa asal kabupaten Nduga dengan perolehan sebanyak 18 suara. dan berhasil mengalahkan beberapa kandidat lainnya.

pada hari ini tanggal, 10 Juni 2015 telah melaksanakan pelantikan dirangkaikan dengan rapat kerja (RAKER) selama satu periode. Dalam acara tersebut, dihadiri beberapa organisasi daerah papua (ORGANDAP) serta penghuni asrama cenderasih IV makassar. Kemudian melantik para pengurus baru oleh salah seorang senior yaitu Hosea Wonda, yang mana di ketuai oleh Nas Murib dan didalamnya beberapa biro-biro yang dapat membawah penghuni asrama pada arah yang diharapkan.

Kota study news diwawancarai kepada Nas Murib selaku ketua baru terpilih, mengatakan bawah saya akan berusaha mengawal program kerja baik dari pengurus inti maupun hasil rapat yang akan putuskan melalui setiap biro-biro yang ada. Lanjutanya, saya akan berusaha semaksimal mungkin di mana membangun hubungan komunikasi dengan beberapa ORGANDAP yang ada sehingga kolektivitas dan solidaritas tetap akan bangun secara bersama-sama. Sangat membutuhkan juga kepedulian dari Pemerintah Daerah Papua dan Papua Barat harapannya supaya asrama juga segera renopasi karena sebagian material dan fasilitas asrama sudah rusak.

Ia juga sangat mengharapkan kepada kebawahannya agar bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga bisa menjawab visi dan misi yang dipaparkan sebelumnya.pada dasarnya dari sinilah akan membentuk karakter baik secara fisikis maupun moralitas selain belajar di kampus-kampus bahkan di tempat pelatihan dan seminar sehingga mampu menyiapkan diri untuk menghadapi era persaingan belajar dan kerja.

Acara tersebut dilaksanakan di Asrama papua Jl. Lanto daeng pasewang pada pukul 9.00 Wita dengan dana yang sekupnya. Perkantian pengurus baru dilakukan karena sudah habis masa kepengurusan bahkan kondisi perkembangan yang sangat prihatin dengan kebiasaan yang tidak pada mestinya, sehingga melalui pengurus baru ini, bisa dapat mengendalikan dari kondisi yang tidak memungkinkan kebiasaannya.
 
Asso Sobolim/Viktor M


Kamis, 25 Juni 2015

Mahasiswa Papua Di Kota Makassar Menolak Upaya MELINDO Untuk Mengagalkan ULMWP Masuk Ke MSG



Mahasiswa Sedang mendengarkan saat persentase hasil berita

Pemuda dan mahasiswa di kota studi makassar, selama beberapa hari terakhir ini telah menunggu hasil Konferensi Tingkat Tinggi MSG, ternyata berita yang diberitakan dari tempat KTT bahwa pihak dari indonesia yang mengatasnamakan diri Malenesia-Indonesia (MELINDO), berupaya mengagalkan dengan mengajukan namu baru yaitu MELINDO di saat konferensi berlangsung di honiara salamon island.

Terkecut dengan isu tersebut, maka mahasiswa papua telah mengadakan pertemuan langsung di Asrma Yahukimo, dan sangat menolak dengan akan ada MELINDO atas nama rakyat papua. Karena melindo ini sangat jelas, bahwa ada oknum kolonialisme Indonesia untuk mengagalkan ULMWP di MSG.

Dalam wawancara Kota Studynews. Kepada salah satu seorang mahasiswa yang beperan aktif untuk mendukung penuh jalannya KTT MSG, oleh Kristian Degey mengungkapkan bahwakami pada dasarnya sangat kecewa dengan tindakan yang dilakukan oleh MELINDO oleh beberapa oknum untuk mengagalkan usaha yang dilakukan oleh ULMWP dimana atas nama rakyat papua, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati dibunuh oleh kaum penjajah yaitu kolonialisme indonesia, demi nenek myang, tulang-belulang untuk harga diri bagi bangsa papua. Dalam lanjutanya ia sangat yakin, dengan usaha dari beberapa tuan-tuan yang masih eksis memperjuangkan hak rakyat papua yaitu Tuan Beny Wenda dan kawan-kawannya untuk mengalahkan usaha jahat tersebut.

Sepertia yang beritakan oleh beberapa media lokal papua maupun media antara bahwa kekuatan sangat besar untuk mendukung kepada bangsa papua barat ditetapkan sebagai anggota tetap MSG selamannya. Karena pemimpin MSG juga sangat mendukung penuh papua barat, oleh sebab itu segera hentikan usaha liar oleh kaum kolonialisme indonesia. Dan harap suaya ada beberapa tokoh papua juga yang memperjuangkan MELINDO segera mengaku diri bahwa saya adalah orang papua yaitu kulit hitam dan ramput kriting.

Kemudian mengaku, jika ada kepentingan indonesia yang memperjuangkan di KTT MSG pada saat ini. Seperti sebutkan namannya dalam laporan melalui media ini: http://suarawiyaimana.blogspot.com/2015/06/laporan-perkembangan-pertemuan-msg-di.html?m=1,anda harus sadar dan melihat dirimu dengan baik. Karena anda adalah pencilat segala milik negara indonesia sehingga buta untuk melihat rakyat papua yang sedang menderita diatas tanahnya sendiri.

Kami sangat menolak dengan MELINDO karena sama saja ia menjual rakyat papua kepada orang lain (penghianat), kepentingan sehingga kami berharap supaya pemimpin MSG melihat secara objektif, sebab ULMWP sudah cukup lama berusaha selamatkan bangsa paua dari segala penindasan dihadapan bangsa malensia. MELINDO adalah salah satu usaha penindasan yang secara, terstruktur terencana dan secara sistematis oleh negara indonesia.
(Viktor/Andi/Kris/KTNS)

Selasa, 23 Juni 2015

FSMPRP DI KOTA STUDI MAKASSAR MEDUKUNG ULMWP MASUK KE MSG



Beberapa Organisasi Daerah Papua (ORGANDAP) yang tergabung dalam Forum Solidaritas Mahasiswa Peduli Rakyat Papua, telah berkumpul di Asrama Mahasiwa Yahukimo Di Jl. Cilallang Jaya untuk mendukung terhadap The United Liberation Movement For West Papua (ULMWP).

Sudah sekian lama banyak manusia papua, yang dimusnahkan oleh antek kolonialisme indonesia yaitu TNI/POLRI yang dimana tak kunjung akhir oleh pemerintahan indonesia dari periode-keperiode sehingga beberapa aktivis papua barat membawah masalah tersebut akan di ajukan sidang Konferensi Tingkat Tingga (KTT) pada Melanesia Spearhead Group (MSG) untuk memberikan sebuah warna bagi bangsa papua barat.

Ribuan mahasiswa tersebut, dengan penuh mendukung terhadap jalannya sidang Konferensi Tingkat Tingga (KTT) Melanesia Spearhead Group (MSG) yang berlangsung selama 3 tiga hari yaitu pada tanggal 24-26 juni 2015 di honiara kepulan salamon. Hasil resulusi kebinet yang diumumkan oleh perdana menteri salamon  
 Manasye. D. Sogavare MP  dengan penuh semangat membela rakyat Papua Barat.

Dalam teori organisasi, Berserikat berorganisasi adalah hak setiap manusia yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi harkar dan martabat seseorang. Dengan asumsi tersebut sehingga perdana menteri kepulauan salamon, sangat paham dan mendukung kepada bangsa papua barat dalil keinginannya untuk menggabungkan sebagai anggota Melanesia Spearhead Group (MSG) melalui KTT ini.

Diskusi publik (Public Discusion)  dengan tema mendukung penuh terhadap ULMWP di MSG untuk anggota tetap, berlangsung selama 4 jam lebih WITA. Dalam diskusi yang dipimpin langsung oleh Chris Degey dan kawan-kawannya. Dalam diskusinya banyak pandangan yang menjadi pikiran yang menyikapi dari fenomena yang terjadi di wilayah papua, namun pimpinan negara indonesia sangat buta melihat rakyat papua yang selama ini sangat terancam dengan berbagai cara.

Kenyataan ini, indonesia harus menghargai dan menghormati, setelah tetapkanya anggota sah rakyat papua di Melanesia Spearhead Group (MSG) yang nantinya seperti setmen yang di umumkan secara resmi beberapa hasil resulusi kabinet kepulauan salamon.

Kesimpulannya adalah semua pemuda dan mahasiswa papua yang ada di kota makassar, kami sangat mendukung proses konferensi ini, sehingga bisa melahirkan resolusi yang terbaik bagi rakyat papua barat. Dan harapkan kepada pemimpin MSG agar melihat secara objektib dengan adannya niat dan solidaritas atas bangsa malenesia di muka bumi ini.

Ada upaya yang dilakukan oleh oknum malenesia-indonesia (melindo), untuk menggagalkan atau membangun adu domba antara PNG, Fiji dan papua, segera dihentikan secara moralitas maupun fisikis, sehingga FNG dan Fiji mengambil keputusan secara objektif terhadap nasib bangsa Papua Barat. Melindo merupakan bagian dari manusia yang tidak lahir dari normalnya manusia bisa yang bisa menghargai usaha dan nilai suatu bangsa sehingga kami harap PNG dan Fiji secara konsisten untuk melihat Papua Barat yang sebenarnya. Bisa lihat hasil wawancara disini:https://www.youtube.com/watch?v=mHtt67Ynq8g&feature=youtu.be
Klik disi untuk translate: http://tambahangambar.blogspot.com/
 (Viktor Mirin/Kristian Degei/Paul Waffa)


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com