Rabu, 11 November 2015

SEBUAH CERITA TENTANG TANAH PAPUA


Isinga: Sebuah Novel yang Kisah Percintaan Sepasang Kekasih di Tanah Papua

Walaupun tertulis roman papua, tak seluruhnya bercerita tentang percintaan. Pendidikan, culture, sosial budaya, pengaruh dunia luar, posisi wanita, peran pemerintahan, brutalisme pemerintah saat itu, Posisi lelaki dalam masyarakat, alam papua,semua terangkum dengan apik dalam buku ini simple. 

Isinga mempunyai arti “Ibu”, tetapi cerita ini bukan tentang Ibu yang sesungguhnya, tetapi tentang Bumi Papua yang dianggap seperti seorang ibu, dimana seseorang dilahirkan, dibesarkan, dan mendapatkan semua pengalaman hidup. Dimana bumi Papua memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya yang dibutuhkan, seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Novel ini menceritakan kisah percintaan sepasang kekasih; Irewa dan Meage. Perjalanan hidup mereka yang jauh dari rencana indah mereka. Kegagalan untuk hidup bersama, dan kebesaran hati Irewa untuk menerima posisinya sebagaiyonime (alat perdamaian) untuk dua suku yang berperang agar tak lagi terjadi perang, membuat Meage memilih pergi dan tak kembali ke Aitubu. Irewa yang di posisikan sebagai seorang Yonime tak mampu melakukan apapun demi masyarakat sukunya, dan dengan berbesar hati menerima keputusan kedua Desa itu walaupun tanpa persetujuannya. Irewa sadar apa yang dia lakukan adalah demi perdamaian dua Desa tersebut. Perjuangan wanita papua dalam kehidupan mereka digambarkan dengan jelas dalam sosok Irewa. betapa hak-haknya hilang sebagai wanita bebas hanya demi kepentingan banyak orang.

Irewa yang akhirnya menerima pernikahan itu, menjadi seorang istri dari seorang laki laki yang bernama Malom yang pada awalnya di tolaknya ketika melamarnya dahulu. Cerita Isinga ini menceritakan bagaimana posisi seorang wanita Papua di tengah tengah masyarakat, dengan segala kewajiban dan haknya sebagai seorang istri. Wanita di Papua seperti seorang pembantu dan budak. Mereka harus melahirkan sebanyak mungkin anak, mengurus anak tanpa bantuan lelaki, memasak, membersihkan ternak babi, mencari betatas untuk mereka makan, menyelam mencari ikan, mencari kayu bakar, membelahnya, merawat sagu, membersihkan semak dan masih banyak hal lagi tanpa boleh mengeluh. What the Hell in Earth this place is!!!

Ada sebuah Tulisan yang membuat sisi feminis saya bergejolak, dan ini adalah posisi wanita sesungguhnya yang berada di Papua:

Perempuan yang baik itu mesti pendiam. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah protes. Tidak pernah membantah. Tidak pernah bersedih. Tidak pernah bicara kasar. Tidak pernah menyakiti hati orang lain. Tidak suka bertengkar. Tidak pernah marah. Tidak pernah mendendam. Tidak pernah punya perasaan dengki pada orang lain. Senang membantu orang lain. Tidak mengeluh kalau ada kesulitan. Tidak pernah bicara kasar. Bersuara lembut. Tidak pernah berkelahi. Tidak suka mencari masalah. Tidak senang menyalahkan orang lain. Tidak pernah menjengkelkan orang lain. Tidak pernah membicarakan orang lain. Tidak pelit. Tidak serakah. Tidak melakukan hal hal buruk, tidak terpuji. Sabar.

 Tabah. Hidup yang baik. Bekerjalah dengan giat. Memiliki pengetahuan. Bisa menunjukkan ketrampilan tangan kiri. Bisa menunjukkan ketrampilan tangan kanan. Selalu menyiapkan makanan untuk keluarga. Menghidangkan hasil kebun dengan setulus hati. Peremopuan harus bisa mengurus suami dengan baik. Mengurus keluarga dengan baik. Mampu bergaul ke semua orang dengan baik. Budi bahasa baik. Tutur kata manis. Perempuan harusselalu gembira seperti burung eke yang berwarna merah dan  burung holiang yang berwarna hijau. 

Tulisan di atas adalah nyanyian nasehat untuk wanita suku Hobone. Betapa mereka dituntut sedemikian tingginya untuk menjadi perempuan yang sempurna di Hobone. I am sure I will not be a good woman in Hobone if the criteria are like above. Lalu apa peran laki laki disana??? apakah hanya berperan memberikan spermanya untuk menjadikan nya anak, kemudian begitu saja melepas kewajibannya untuk mendukung istri??? Pertanyaan itu membuat saya cukup mengelus dada, dan bersyukur sebenarnya. Bahwa saya masih diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan, merasakan kesetaraan laki laki dan wanita, dimana saya berhak menuntut laki laki untuk juga bekerja, bukan dengan alasan melepaskan kemandirian lalu bersandar sepenuhnya terhadap sang wanita. 

I will not be able to stand for a man like that!

Kehidupan suku Hobone, Aitubu, keadaan primitive masyarakat disana, tergambarkan dengan gamblang. Betapa upacara upcara, kegiatan adat, perilaku mereka dalam berperang, kebengisan tentara ketika melakukan pembantaian terceritakan dengan detail seperti kita terseret melihat dengan mata kita sendiri, terkadang membuat bergidik. Bagaimana pemerintahan kala itu sangat otoriter, dan kejam terhadap suku suku pedalaman, hingga tega membantai suku yang tak mengikuti perintah. What the hell in Earth at that time!! Bukan memberikan pengayoman, tapi lebih memberikan teror yang menakutkan. Ketakutan terhadap gerakan memerdekakan daerahnya membuat pemerintah berlaku keras terhadap mereka. Alih alih berdiskusi tentang baik buruk, pemerintah lebih memilih bertindak diktator. 

Megae yang akhirnya ditinggal menikah oleh Irewa, melanjutkan hidupnya jauh meninggalkan sukunya, dan menetap di suku yang lain. Megae adala seorang pemuda suku Aitubu yang mendapatkan pendidikan dasar dalam sekola setahun yang didirikan oleh seorang Dokter di suku pedalaman tersebut. Pengetahuan dasar tentang kedokteran menjadikannya dipercaya oleh masyarakat lain. 

Ketelitian penceritaan alam papua begitu menggoda, sehingga membawa kita seperti memasuki hutan hutan papua, merasakan beratnya hidup di antara keterbatasan fasilitas, tekanan pemerintah, ketakutan peperanga, tapi juga membuat kita merasa betapa sederhanya hidup disana, betapa kecilnya manusia ditengah kehidupan hutan. 

Keadaan masyarakat papua pada saat itu yang sangat primitif membuat mereka tidak mengenal apa itu pendidikan. Pendidikan dalam sekolah setahun yang Irewa dan Meage rasakan membuat mereka lebih bijak dalam melihat kehidupan, mengambil keputusan, dan berpikir jauh ke depan. 

Pengaruh dunia luar yang datang digambarkan dengan simple, dengan sederhana, bagaimana pengaruh itu membuat perubahan yang cukup signifikan dalam tata cara bermasyarakat mereka, bagaimana membuat mereka berubah cara pandang dalam hidup. 

Novel ini Indah. Membawa kita melihat dunia lain selain dunia fancy yang kita nikmati saat ini. **Papuamahasiswa

 

0 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com