Minggu, 25 Oktober 2015

PENOLAKAN PEMEKARAN KABUPATEN MAPIA RAYA TERUS MEMALANG

PEMEKARAN DAERAH OTONOMI BARU (DOB) MAPIA RAYA HANYA MENGUNDANG MALAPETAKA (Misfortune) BAGI MASYARAKA-FORUMSOLIDARITASMAHASISWAPAPUA

Salah Satu Aktivis Tim Penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) Mapia Raya Yulianus Pugiye, Mengatakan dengan rentang mengatakan, Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Mapia Raya yang sedang berjuang oleh sekelompok Pejabat Birokrasi itu hanya mengundang “Malapetaka (Misfortune).

Bagi masyarakat kecil di totaa Mapia”. Timika, 24/10/2015; Saat ini Bapak Willem Kegiye dan Kawan-kawannya pasti berjuang keras dengan harapan besar untuk merebut jabatan dalam pemerintahan Kabupaten Mapia Raya bahkan sudah buat struktur pemerintahan dan versi yang sedang kalian berjuang. 

Dalam benak pikiran Bapak Willem Kegiye dan Kawan-kawannya pasti sangat benci terhadap kami yang sedang dan akan menolak Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Mapia Raya, karena Bapak Willem Kegiye dan Kawan-kawannya merasa menghalangi usaha keras kalian yang berjalan sampai saat ini.

Kami memahami usaha, bahwa tujuan Bapak Wilem Kegiye dan Kawan-kawannya seperti yang saya kemukakan diatas. Lanjut Yulianus Pugiye, Namun Willem Kegiye dan Kawan-kawannya harus buka mata lebar-lebar dan melihat, apa yang sedang alami oleh warga Mapia saat ini, kami sudah dan sedang terancam dengan manifesto politik NKRI tetapi kalian tidak menyadarinya. 

Saya Yulianus Pugiye, sebagai Putera Daerah Tota Mapia sangat paham juga bahwa Bapak Willem Kegiye dan Kawan-kawannya sedang melancarkan berbagai cara yang baru untuk membunuh kami warga Tota Mapia seutuhnya. Kami sudah alami seribu satu macam cara sadis oleh Pemerintah Indonesia melalui berbagai cara:

1. Ketidakadilan
2. Korupsi Kolusi dan Nopotisme (KKN)
3. Pembunuhan brutal
4. Penganiayaan
5. Perampasan Hak Orang Lain

Semua ini kami sudah alami, tapi Bapak Willem Kegiye dan Kawan-kawannya yang selalu dan sedang berusaha serta membuat jalan lebar-lebar untuk menambah dan mendatangkan semua bentuk kekerasan dan malah petaka yang saya kemukakan diatas ini. Lanjut Pugiye, Sayapun ikut mendukung atas keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe, mengungkapkan bahwa pemekaran yang dilakukan di Papua tidak sesuai prosedur yang ada. 

Dengan melihat hal-hal tersebut, Enembe pun dengan tegas mengatakan pemekaran tidak boleh ada lagi di Papua. Keinginannya untuk menjadi Warga Negara Australia “WNA” Jika Pemerintah Pusat meloloskan permohonan pemekaran sejumlah Daerah Otonom Baru “ DOB” di Provinsi Papua. Hal itu diungkapkan Gubernur Papua, ketika melakukan pertemuan terbatas dengan para Bupati/Walikota Provinsi Papua, yang berlangsung di kota Jayapura Hotel Aston, 15/04/15. Jika terjadi banyak pemekaran di Provinsi Papua, maka saya memutuskan lebih baik menjadi warga negara Australia, karena saya tidak ingin melihat persoalan dan dampak yang terjadi dari pemekaran. 

Saya tidak mau dengar dan ikuti perkembangan BURUK yang di lakukan oleh TNI/POLRI Indonesia di Tanah Papua terhadap Rakyat kecil. Lebih baik saya pindah warga Negara Australia,” pungkasnya Bapak Gubernur Papua. Gubernur Papua terlihat cukup prihatin dengan banyaknya usulan pemekaran Daerah Otonom Baru (DOB) yang diperjuangkan oleh orang-orang Papua dari sejumlah daerah di Papua, bahkan dirinya tidak habis pikir, sampai daerah yang sudah tidak layak dimekarkan, masih saja diperjuangkan oleh penjabat daerah alias birokrasi Daerah tersebut untuk tetap dimekarkan. 

Menurut Gubernur, jika melihat kondisi rakyat Papua saat ini, usulan pemekaran Daerah Otonom Baru (DOB) di Papua akan mengancam eksistensi orang asli papua di atas tanahnya sendiri. “Menurut saya pemekaran itu sama dengan kematian dan Penindasan rakyat sehingga Bapak-Bapak Bupati bias terjemahkan sendiri bahasa saya ini,” ungkap Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.IP. Ketua Tim Penolakan Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Mapia Raya Mudestus Musa Boma juga mengatakan bahwa dalam Pemekaran Mapia Raya tersebut akan mengundang berbagai macam ‘Malapetaka’ (Misfortune di daerah pemekaran tersebut, entah itu terkait HAM di daerah Tota Mapia, seperti yang baru-baru ini terjadi penembakan di Meuwodide Paniai, Senin (08/12/14) lalu yang sampai pada saat ini belum ada proses penyelesian yang jelas, Tandasnya Boma. 

Lanjut Boma, Berdasarkan latar belakang dan masalah tersebut diatas, sayapun dengan tegas menyikapi pemekaran DOB Mapia Raya yang tertuang dalam 3 poin dibawaH ini:

1. Mengapa Bupati Dogiyai, Drs. Thomas Tigi bisa membentuk Tim Pemekaran Kabupaten Mapia   
    Raya tanpa mengindahkan instruksi Gubernur Papua, Lukas Enembe? 
2. UUD No.129 Tahun 2011 Bab III Pasal 3 tidak menjamin agar pemekaran DOB Mapia Raya 
    yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu. 
3. Pemekaran bukan solusi untuk merubah nasip segalanya, tetapi pemekaran merusak 
    Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). 

Kami sebagai Putera Daerah Mapia sangat sadar atas semua kekerasan tersebut. Sehingga kami juga akan berjuang untuk "Menolak Pemekaran Kabupaten Mapia Raya" mengikuti sesuai irama perjuangan Bapak Willem Kegiye dan kawan-kawannya. Bila kalian keras dan sadis, kamipun akan keras tapi tidak sadis, Pintanya Boma;  Kami siap bertarung untuk menolak. Karena musuh sejati bukan dari jauh, tapi tumbuh subur dalam keluarga kita sendiri, Pungkasnya Pugiye. Penulis Adalah Yulianus Pugiye Aktivis Tim Penolakan DOB Mapia Raya di Wilaya Timika Papua. 

 

0 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com